Bambanglipuro, IPMDIY.ID – Isu tentang kekerasan seksual masih menjadi problematika yang serius bagi masyarakat, terutama bagi pelajar. Apalagi jika sampai kekerasan seksual ini bisa mempengaruhi kesehatan mental bagi pelajar, yang rentan akan hal tersebut. Kali ini, dalam rangka Konpiwil, Collaboratalk membahas mengenai “Belajar Kesehatan Mental dari Kekerasan Seksual”, bersama Ipmawati Ainasofi Nastiti dari Bidang Ipmawati PP IPM dan Ibu Dewi Juliana, S.H. dari LSM Rifka Annisa, pada hari Sabtu (29/2) di SMK Muhammadiyah 1 Bambanglipuro, Bantul.

Kesehatan Mental di Kalangan Pelajar

Memulai paparannya, Ipmawati Aina menyebutkan jika kesehatan mental adalah tentang kondisi psikis yang berkecukupan, tenang, damai, dan bahagia, “Jadi, kesehatan mental itu adalah bagaimana kita ingin merasa nyaman dan tenang saat menjalani kehidupan, namun ada sesuatu yang mengganggu sehingga membuat emosinya tidak stabil,” ujarnya.

Masa-masa remaja diakui merupakan masa di mana terjadi perubahan dan penyesuaian baik secara psikologis, emosional, maupun finansial. Kalangan pelajar termasuk ke dalam kategori usia ini (remaja –red) sehingga rentan akan gangguan mental, “Pelajar sangat rentan dengan gangguan mental, karena rata-rata gangguan mental terjadi sejak usia 14 tahun. Selain itu, menurut data dari WHO (World Health Organization) ada banyak kasus (gangguan mental –red) yang tidak tertangani sehingga bunuh diri akibat depresi menjadi penyebab kematian tertinggi pada anak muda berusia 15-29 tahun,” paparnya.  Tak hanya itu, jika merujuk pada hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 prevalansi penderita gangguan mental emosional pada remaja yang berumur lebih dari 15 tahun sebesar 9,8%, meningkat daripada tahun 2013, yaitu sebesar 6%.

“Dan juga masyarakat perkotaan lebih rentan terkena depresi, alkoholisme, gangguan bipolar, skizofrenia, dan gangguan mental lainnya. Jumlah pasien gangguan mental di Indonesia dan dunia meningkat disebabkan oleh pesatnya pertumbuhan hidup manusia serta beban hidup yang meningkat, terutama yang dialami oleh masyarakat urban,” jelasnya.

Lalu bagaimana kita bisa mengatasi masalah gangguan mental ini? Ipmawati Aina memberikan solusinya, “Ketika ada masalah, jangan hanya diam dan dipendam terus. Mulailah untuk bercerita dengan orang terdekat di sekitar kita. Lalu, saat masalah muncul, harus diselesaikan. Jangan pernah lari dari masalah tersebut. Kemudian, carilah peer group yang positif dan aktualisasikan potensi yang terdapat dalam diri sendiri,” jelasnya.

Kekerasan Seksual di Sekitar Kita

Lanjut ke pembahasan berikutnya, yaitu tentang kekerasan seksual. Menurut Ibu Dewi, kekerasan seksual diartikan sebagai, “Tindakan baik berupa ucapan ataupun perbuatan yang dilakukan oleh seseorang untuk menguasai atau memanipulasi orang lain serta membuatnya terlibat dalam aktivitas seksual yang tidak dikehendaki,” jelasnya.

Kenapa bisa terjadi kekerasan seksual? Ibu Dewi memberikan penjelasannya, “Kekerasan seksual bisa terjadi karena adanya pemaksaan kepada seseorang, tidak adanya persetujuan dari korban, serta korba tidak mampu memberikan persetujuan (seperti kekerasan seksual pada anak atau individu dengan disablilitas intelegensi),” paparnya.

Lanjutnya lagi, kekerasan juga bisa terjadi akibat relasi kuasa yang timpang, “Artinya, bisa jadi ketika seseorang merasa mempunyai keunggulan, baik dari segi aspek pendidikan, status sosial, ekonomi, dan sebagainya, dia akan bertindak semena-mena terhadap orang yang berada di bawahnya, termasuk melakukan kekerasan seksual,” pungkasnya.

Di akhir pembahasan, Ibu Dewi memberikan solusi jika terjadi kekerasan seksual, “Yang pertama kali dilakukan, jangan menyalahkan korban kekerasan seksual, itu hanya akan membuat psikisnya semakin hancur. Kemudian, berikan bantuan yang dibutuhkan dan jika perlu bantu korban dengan mendokumentasikan bukti. Selain itu, berikan dukungan tanpa mengambil alih pengambilan keputusan korban. Yang terpenting, jagalah privasi korban serta tetap dampingi korban untuk mencari dukungan dan bantuan” (admin)