ipmdiy

#PELAJARBERDAULAT

Sumber: pixabay.com
Stories

Hari Ini

Oleh: Muhammad Attariq Hafidz*

Entah sudah tulisan keberapa aku mencoba agar tulisanku lolos dalam kolom berita, majalah, ataupun perlombaan tulis-menulis. Hari ini, lagi-lagi aku harus menerima kabar bahwa tulisanku ditolak dalam sebuah kolom berita yang namanya cukup diakui ditingkat nasional. Praktik nepotisme sudah terlihat di belakangnya. Salah seorang redaktur disana, memang masih bersaudara dekat dengan penulis yang kulihat namanya kini mentereng di salah satu halaman berita skala nasional itu.

Belum usai dari sepekan ini juga aku kalah dalam perlombaan menulis cerita. Kali ini aku sendiri tidak tau apakah memang nepotisme terjadi di sana. Yang membuatku tambah sedih, adalah perlombaan ini hanya ada setahun sekali, dan partisipasiku setiap tahunnya harus diikuti dengan kegagalan. Bahkan, untuk tahun lalu saja, aku sampai merusak laptop temanku yang kupinjam untuk bisa membuat cerita dan mengirimkannya keperlombaan itu.

Sebenarnya, bukan aku yang merusaknya begitu saja, tapi lebih tepatnya adikku yang melakukannya. Ah, cukuplah, jangan diteruskan. Membuka luka lama hanya akan menambah kesakitan ketika belum diikhlaskan. Dan memang aku belum mengikhlaskannya. Bagaimana tidak? Sejak saat itu sampai sekarang aku masih diolok-olok oleh temanku dan keluarganya. Apalagi jika sudah bertemu, tidak jarang merka selalu mengungkit masalah laptop yang kupinjam itu. Ya, itu sudah setahun dan masih seperti itu. Dan aku yakin, hari ini mereka sedang tertawa bahagia karena merasa berhasil membuktikan tulisannya lebih baik dariku yang hanya bisa merusak laptopnya.

Sudah hampir putus asa rasanya aku untuk menulis. Tak ada nilainya dimata siapapun tulisanku, bahkan sejak pertama kali aku menunjukan tulisanku pada Ipang, teman laki-laki yang dekat denganku saat smp. Cerita yang kutulis memang sengaja kuperuntukkan untuknya. Tapi, ia malah berkata, “San, alay banget tau ceritamu”. Tak dihargai orang yang kita kira bisa menghargai kita memang menyakitkan, walaupun sudah mengikhlaskan tapi tetap menimbulkan bekas Namun, untung saja ada Bunda yang paling tau menghargai dan mencintai anaknya.

Ketika hari itu aku seharian masih menangis di kamar karena mengingat perkataan Ipang seperti yang kuceritakan. Bunda masuk ke kamarku dan tiba-tiba memberikan selembar kertas bertuliskan Sani, buktikan kalau kamu hebat dengan tulisanmu. Kemudian Bunda membantu menghapuskan air mataku, membelai rambutku dengan halus, dan pergi keluar kamar tanpa sepatah katapun.

“Kak Sani nangis, yah?”. Itu suara Soraya. Gawat, aku harus cepat-cepat membereskan tulisan dan sisa air mataku. Aku tidak boleh terlihat sedih di hadapannya. Karena, itu pesan Bunda sejak Soraya di dalam kandungan. Selain itu Bunda juga berpesan agar ketika aku sudah menjadi seorang kakak agar bisa selalu berperilaku baik pada adikku kelak. Dan, seorang kakak yang baik tidak akan menunjukkan kesedihan dan permasalahan pribadi pada adiknya, ia harus tegar, setegar Bunda.

“Gak kok, debu di kamar ini masuk ke mata kakak saja.” Balasku yang masih berusaha menghapus air mata.

“Terima kasih hiburannya, Kak. Kakak selalu berhasil kalau menghiburku. Tapi mau sampai kapan kakak seperti ini terus?”. Seketika aku berhenti menghapus sisa air mata dan diam melihat Soraya penuh keheranan. Kemudian ia mendekatiku yang masih terduduk di depan meja belajar. Mendekat dan duduk dilantai bersandar pada kakiku.

“Aku sering melihat kakak menangis sendiri. Aku tau kakak selalu meratapi tulisan Bunda yang kakak pajang itu sambil menangis. Aku juga tau  Kakak selalu menghindar lewat jalan di sebelah sana karena takut bertemu keluarga temen kakak yang laptopnya Aku rusak tahun kemarin. Aku juga tau kalau Kakak gak percaya sama orang lain karena terlalu sering gak dihargai. Tapi Aku ini adik Kakak kan? Apakah tampangku juga terlihat tidak akan menghargai kakak sendiri seperti orang lain diluar sana?”

“Bukan begitu, Dik. Kalau kamu hanya mendengar permasalahan-permasalahan pribadi kakak saja, kamu gak bakal jadi Soraya yang kuat.”

“Tapi Kakak juga butuh cerita ke orang lain, Kak. Kalau permasalahan hanya Kakak simpan sendiri, semua masalah hanya akan semakin berputar-putar di kepala Kakak saja. Tidak akan pernah selesai, dan tidak akan pernah pergi. Menjadi kakak yang baik juga harus bisa jaga dirinya dengan baik. Itu kan yang sering kakak bilang? Ingin menjadi kakak yang baik.”

“Kamu sepertinya sudah berani membaca buku harian, Kakak yah”, kataku sambil mengacak-acak jail rambut Soraya.

“Hahaha, jangan kak, cukup. Oke, oke. Aku memang sudah membaca buku harian Kakak. Tapi, dibandingkan jumlah buku harian kakak yang memenuhi satu lemari sendiri itu masih terlalu sedikit yang kubaca, Kak.”

“Tak apa, tapi kamu tetap harus jadi Soraya yang kuat, Soraya yang tegar”.

“Seperti Bunda ‘kan, Kak”. Tatapan Soraya yang mirip dengan tatapan Bunda itu tak bisa membuatku untuk menahan air mata lagi. Dan Soraya yang kaget melihatku menangis buru-buru berdiri dan memelukku.

“Maaf, Kak. Aku salah ucap, yah?”.

Aku hanya menggelengkan kepalaku.

“Kak. Jangan nangis lagi. Aku masuk ke kamar Kakak niatnya buat ngasih hadiah, bukan bikin Kakak nangis. Hapus dulu air matanya. Lihat deh, Kak, apa yang aku bawa”. Dengan wajah cerianya, Soraya memberikan sebuah buku harian yang cukup tebal dengan corak bunga di sampul merahnya.

“Coba lihat halaman pertamanya, Kak”. Saat kubuka, terlihat gambar sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah, Bunda, dua orang wanita kakak beradik yang berdiri di belakangnya. Adikku memang suka menggambar. Tapi aku tidak menyangka ia akan menggambar ini dan sebagus ini.

“Dik, ini gambar keluarga kita?”

“Iya, kan kita gak punya foto keluarga yang lengkap. Jadi aku buat sendiri. Maaf kalau gambar Bunda gak sesuai, aku kan juga belum pernah liat langsung. Oh ya, coba Kakak sekarang buka halaman keduanya”.

Halaman kedua itu bertuliskan, Selamat ulang tahun untuk kita berdua, Kak. Selesai membaca tulisan itu aku kembali menangis. Aku baru ingat, bahwa hari ini adalah hari ulang tahunku. Itu juga berarti hari ulang tahun Soraya. Namun, yang membuatku menangis adalah kalau hari ini adalah hari lahir Adikku, Soraya, maka, hari ini juga merupakan hari meninggalnya Bundaku.

*) Anggota Bidang PIP PD IPM Kab. Bantul

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *