Ikhwan Ahada: Bagaimana Muhammadiyah Tetap Bertahan di Tengah Gempuran Ideologis Zaman?

Di tengah gempuran ideologi yang sangat dinamis, menjadi hal yang patut dibanggakan ketika Muhammadiyah  telah bertahan hingga lebih dari 100 tahun lamanya. Topik inilah yang menjadi bahasan pada diskusi materi pengantar PKM-TM 3 PW IPM DIY pada Kamis, (18/02) secara daring.

Ketua Majelis Pendidikan Kader Pimpinan Pusat (MPK PP) Muhammadiyah Ikhwan Ahada selaku pemateri dalam diskusi kali ini menyampaikan bahwa terdapat empat prinsip yang dipegang teguh oleh Muhammadiyah.

“Empat prinsip itu adalah Muhammadiyah berprinsip aqidah assalimah (lurus dan selamat), prinsip pemikiran wasathiyah (terbuka dan toleran), semangat inklusif, serta pemikiran Muhammadiyah senantiasa tajdidiyah”, ungkap Ikhwan.

Ikhwan menjelaskan bahwa banyaknya ideologi yang tumbuh dan hidup kemudian melibas ideologi lain yang tidak sejalan menjadi permasalahan. Namun hingga saat ini, Muhammadiyah menjadi salah satu pilar yang mampu bertahan.

“Hal ini disebabkan karena empat kekuatan ideologisnya itulah relevansi dan titik temu yang merupakan alasan Muhammadiyah dapat merespon dan menjawab perkembangan zaman hingga saat ini,” jelasnya lagi.

Mulai Tumbuh Ideologi Kecil di Tubuh Muhammadiyah

Saat ini, mulai  tumbuh  ideologi kecil dalam Muhammadiyah. Seharusnya hal tersebut dapat dianggap sebagai dinamika internal agar Muhammadiyah tidak tertidur. Perlunya seseorang yang senantiasa menggerakkan roda organisasi dengan melihat tantangan internal tersebut.

“Kita tidak perlu khawatir secara berlebihan, cukup waspada untuk melihat adanya perbedaan pemahaman. Dengan adanya perbedaan tersebut kita dapat mengkristalkan ideologi yang dibawa oleh KH. Dahlan, sehingga Muhammadiyah akan terus berputar.” kata Ikhwan.

Ikhwan juga mengingatkan untuk tidak takut untuk bergaul dengan orang yang memiiliki pikiran berbeda. Pelajaran harus diambil meski itu dari orang yang paling buruk sekalipun. Jika tidak dapat memberi pelajaran, maka ambillah pelajaran yang disertai dengan fakta bahwa Al-Qur’an tidak hanya menyajikan kisah Nabi Musa as., tapi juga menceritakan tentang Qarun. Selain itu, Al-Qur’an juga mengajarkan perbedaan, maka jangan pernah takut dengan perbedaan tersebut.

“Kita harus bisa menghadapi pluralitas ideologi yang menggilas secara luar biasa. Kembalikan kepada prinsip ideologi Muhammadiyah, maka kita akan tetap bergulir pada relnya tanpa kehilangan kepribadian kita. Kita bisa menghantarkan Al-Qur’an menjadi petunjuk hidup bukan sekedar bacaan hidup,” tutup Ikhwan pada sesinya. (ageng)