“Suatu saat nanti, aku mau jadi Ketua PP IPM!”

Itulah jawaban dari salah seorang siswa baru yang ditanyai fasilitatornya pada saat berlangsung FORTASI di salah satu sekolah Muhammadiyah di sebuah Kota Pelajar. Begitu lugu, begitu bersemangat. Dua tahun berselang, ia sudah tumbuh menjadi pribadi yang kritis, dan menjadi sosok pemimpin di antara temannya. Tak heran kalau ternyata akhirnya ia saat itu ditunjuk untuk menjadi Ketua Umum IPM di rantingnya. Semua kegiatan, program, dan agenda aksi semua disikat habis ia kerjakan, sibuk rapat sana sini, pindah tempat dari satu kantor ke kantor lainnya, belajar dari satu senior ke satu senior lainnya, materi pelatihan, materi musyawarah, juga ia sikat habis sampai begitu paham apa masalah dan potensi pelajar di lingkungannya, hingga akhirnya lupa kesehatan dirinya, kehabisan bondho, dan lain sebagainya.

Sekarang anak itu telah sampai di Pimpinan Wilayah IPM. Sudah hilang raut semangat yang dulu ia elu-elu ‘kan saat masih jadi ketua umum IPM rantingnya. Kuliah yang tak kunjung usai, skripsi yang masih di bab niat, kondisi keuangan yang memprihatinkan di saat teman usianya telah mapan kerja dan usaha sana sini. Apakah selama ini yang ia usahakan, waktu yang ia korbankan, uang yang ia keluarkan, ternyata sia-sia belaka?

Akhirnya dia mulai memutar otak, bagaimana caranya agar dia ber-IPM sekaligus bisa dapet cuan dari organisasinya itu. Mulailah ia mencari2 proyek yang bisa ia kerjakan, mulai dari proyek kecil macam konsumsi acara, transportasi peserta kegiatan, jasa desain dan publikasi kegiatan, hingga proyek besar program2 pemerintah yang bisa ia lobby sambil nanti uang bisa di-markup buat nanti jadi tambahan kas kegiatan dan kas pribadi.

Ternyata tuntutan kehidupan lebih dari itu, ia mulai berpikir untuk segera meminang pujaan hatinya. Lulus sarjana saja tak cukup, apalagi gelar alumni taruna melati, sang calon mertua gak butuh itu, camer butuh menantu yang punya kerjaan yang jelas, pemasukan yang jelas. Ternyata uang hasil proyekan di IPM gak nutup, ia carilah kerjaan di luar dengan berbekal jaringan yg sudah ia bangun selama ini. Sambil kuliah S2 dari beasiswa Persyarikatan, ia kini sudah jadi guru di sekolah Muhammadiyah, sambil jadi Asdos, kemudian lulus S2, jadilah ia dosen dan mulai meniti karier di AUM. IPM? Buat apalagi capek2 ngurusin ikatan, sudah tidak ada untungnya, kecuali ada cuan-nya sekali dua kali lah dateng rapat di kantor Jogja/Menteng, setor muka, pas LPJ Tanwir dan Muktamar dateng, lumayan ‘kan tiket gratis, sambil jalan-jalan keliling Indonesia.

Begitu sulitnya mempertahankan idealisme kita sebagai kader Muhammadiyah, tidak semudah di saat masih muda dulu ketika membicarakan tentang idealisme, di saat masih belum ada tuntutan kehidupan, kebutuhan makan dan pendidikan masih ditanggung orang tua. Pertanyaannya, mampukah kita mempertahankan idealisme kita dari awal, hingga nanti kita sendiri yang harus menanggung beban hidup kita yang di saat bersamaan, beban organisasi juga ada di kita?

Sampailah di pertanyaan, di umur berapa kalian mulai sadar kalau kata-kata Kyai Dahlan yang “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah” ini ternyata benar adanya?

Oleh: Ahmad Hawari Jundullah (Ketua Umum PW IPM DIY)