Yogyakarta, IPMDIY.ID – Persoalan tentang feminisme dan gender masih hangat diperbincangkan sampai saat ini. Belum lagi dengan stereotip yang berlaku di masyarakat kepada satu individu, entah itu perempuan atau laki-laki. Karena itulah, di TM 3 IPM DIY ini, ada materi “Keadilan Gender dalam Sudut Pandang Islam”, di hari ketiga (Selasa,13/01), pukul 08.00 wib, bersama Ibu Dr. Witriani, M.Hum. sebagai pemateri.

Dalam paparannya, beliau menjelaskan terlebih dahulu persoalan yang terjadi mengenai isu gender, “Sejak dulu, sejarah memang diciptakan oleh laki-laki, karena laki-laki yang meletakkan patokan standar dari suatu peristiwa. Selain itu, terdapat pembagian tugas antara laki-laki dan perempuan, misalnya laki-laki bertugas untuk mencari nafkah sedangkan perempuan mengurusi rumah, menjaga anak, dan sebagainya. Yang pada akhirnya, menjadi sebuah konstruksi sosial dari dulu hingga sekarang,” jelasnya.

Sehingga, -menurutnya lagi- menimbulkan polemik jika terjadi sebaliknya, “Jadi, ketika ada perempuan yang aktif di luar rumah, entah itu bekerja atau sebagainya, sedangkan laki-laki di rumah, mengurusi rumah dan mengasuh anak, kebanyakan orang lain akan merasa aneh melihat hal tersebut. Padahal, itu bukan sesuatu yang mutlak, karena dalam Islam urusan mengasuh anak dan lain-lain berada di kedua belah pihak,” ujarnya. Makanya, timbul stereotip dari masyarakat dan membentuk konstruksi sosial yang terjadi di masyarakat inilah dan menyebabkan pe-labelling, yang justru bisa merugikan kedua belah pihak, baik laki-laki maupun perempuan.

Lalu, Dosen Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini menjelaskan mengenai apa sebenarnya itu gender,

“Gender itu adalah apa yang ada di pikiran daripada apa yang ada di kaki. Artinya, persoalan perbedaan antara mana laki-laki dan perempuan itu sebetulnya hanya terletak pada reproduksi. Bukan pada mindset/pemikiran. Itu yang kadang menyebabkan terjadinya pelecehan,” jelasnya. Lanjutnya lagi, gender itu adalah konstruksi sosial, tetapi kemudian menjadi tersembunyi. Karena persoalan fisik antara laki-laki maupun perempuan, maka timbul stereotip di masyarakat.

Maka, untuk dapat mewujudkan keadilan gender, diperlukan keterbukaan dalam berpikir sehingga dapat menciptakan sebuah pola pikir yang maju. Seperti halnya yang dilakukan oleh Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, “Saya pikir, Muhammadiyah tentunya sangat konsen dalam isu gender ini. Bahkan sejak zamannya K.H. Ahmad Dahlan. Menurut beliau, setelah urusan rumah tangga selesai, perempuan juga perlu ikut urusan di luar rumah (kemasyarakatan), karena sama pentingnya dengan urusan di dalam rumah. Artinya, itu sudah sangat progresif pada zaman tersebut. Dan juga alasan kenapa ‘Aisyiyah mampu berdiri selama 100 tahun, karena didukung oleh konsep berpikir yang maju, artinya bagaimana meletakkan posisi antara perempuan dan laki-laki sudah sangat seimbang,” pungkasnya. (admin)