ipmdiy

#PELAJARBERDAULAT

monica-subastia
Berita Kabar IPM

Membangun Relisiensi Organisasi sebagai Gerakan Pelajar yang Progresif: Reframe the Future

Membangun Relisiensi Organisasi sebagai Gerakan Pelajar yang Progresif: Reframe the Future

Materi ini diangkat pada materi Ke-IPM-an pada kegiatan Pelatihan Kader Muhammadiyah Taruna Melati (PKM-TM) 3 yang diadakan Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (PW IPM DIY) pada Sabtu, (20/02/2021) melalui Zoom Meeting.

Kenali IPM

Diskusi yang bertajuk “Membangun Relisiensi Organisasi sebagai Gerakan Pelajar yang Progresif: Reframe the Future” dipilih Ketua Bidang Perkaderan Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PP IPM) Monica Subastia selaku pengisi materi bahwa saat ini masyarakat sedang menghadapi perubahaan yang tidak sengaja terjadi dan memberikan dampak yang luar biasa. 

“Jika saat tahun 2018 banyak orang yang membicarakan revolusi industri 4.0, rasanya diskusi tersebut terasa naratif karena hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang dekat dengan teknologi seperti halnya fenomena munculnya ojek online (ojol). Namun, pada kenyataannya di tahun 2020 lalu, menemui sendiri perubahan-perubahan yang akhirnya membuat banyak orang yang tidak siap dengan hal itu,” jelas Monica.

Monika melanjutkan bahwa masyarakat, terutama para pelajar untuk tetap bertahan dan melampaui segala batas yang sedang dihadapi sekarang, mencoba membingkai ulang, serta mencari formulasi baru. Ia juga menegaskan kepada peserta PKM-TM 3 untuk mencari tahu bagaimana membentuk gerakan sebagai sebuah wahana yang ingin kita ciptakan untuk pelajar-pelajar Indonesia. 

Dalam pemaparannya, Monica menjelaskan gamabran umum tentang dasar gerakan visi dan misi IPM agar lebih mengenal IPM. Semakin kita banyak membaca tentang organisasi kita, maka akan semakin banyak pula pandangan kita, selalu menemukan pemaknaan yang berbeda, nilai baru, dan menjadikan khazanah pemikiran baru bhawa IPM tak sesempit yang dibayangkan. 

“Narasi-narasi IPM yang sebegitu ideal itu bisa diterjemahkan ke berbagai bentuk yang sangat banyak. Namun, narasi yangs esuai dengan problema masa kini masih belum banyak. Oleh karena itu, narasi-narasi IPM yang ideal itu perlu dinarasikan ulang tanpa perlu mengubah narasi praktis/ideal,” ungkap Monica.

Sejarah Pergerakan IPM dari Waktu ke Waktu

Monica menjelaskan tentang urut-urutan gerakan di IPM dari tahun ke tahun. IPM ada bukan karena bergerak begitu saja, akan tetapi ada energi dan gaya yang dikeluarkan. Semua yang dilakukan IPM itu selalu berdasar sehingga orang-orang menaruh ekspektasi yang besar terhadap IPM sehingga IPm diletakkan di tempat yang spesial. Hal ini didapatkan karena IPM membentuk gerakan berdasarkan riset. Sejak dulu IPM ketika IPM memproduksi gerakan telah menggunakan metode riset, tetapi hal itu memang menjadi pekerjaan yang tidak diketahui banyak orang.Ipm memiliki beberapa gerakan yang terus berubah dari zaman ke zaman, yakni Gerakan Kritis Transformatif (GKT) pada Muktamar IRM Tahun 2004, Gerakan Pelajar Kreatif (GPK) pada Muktamar IPM Tahun 2010, dan Gerakan Pelajar Berkemajuan (GPB) pada Muktamar IPM Tahun 2012.

Monica juga menjelaskan secara rinci tentang latar berdirinya IPM. Fase I IPM yang terdiri dari Orde Baru dan Pembangunan. Pada fase ini lahirnya IPM untuk membentengi pelajar dari ideologi PKI, menjadi bukti kehadiran IPM merupakan respon Muhammadiyah terhadap masalah yang ada. Pada fase ini, sudah ada Sistem Perkaderan IPM (SPI) akan tetapi dalam bentuk lembaran-lembaran saja. Di fase II IRM yakni terjadi perubahan nama dari IPM menjadi IRM. Selain itu, kesulitan di fase ini adalah adanya kesulitan untuk menyelenggarakan program yang akhirnya menjadi pertimbangan untuk melakukan penggantian nama. Tak hanya itu saja, ternyata di fase ini juga terdapat konflik lainnya yaitu kesenjangan sosial. Lalu di fase III Anomali yang terdiri dari proses pencarian paradigma dan mulai lahir GKT pada 2004.

Dan yang terakhir terdapat fase IV yang di mana di fase ini kembali terjadi perubahan nama dari IRM menjadi IPM. Di fase ini juga suharto turun dan IRM kembali nama menjadi IPM. IRM yang bertumbuh di tengah kesenjangan sosial terasa sangat bermasyarakat saat itu, sehingga IPM identik dengan advokasi dan gerakan sosial. Karena konkritnya sekadar gerakan sosial seperti baksos, mulailah muncul kesadaran IRM yang terasa semakin jauh dari tupoksinya ngurusin pelajar, sehingga IRM dirasa terlalu luas objek garapannya dan akhirnya terjadi perubahan nama dari IRM ke IPM. Pada tahun 2010, lahirlah GPK yang memiliki tujuan untuk menjadikan IPM sebagai rumah kreatif pelajar.

Namun nyatanya, GPK tidak cukup lengkap memenuhi syarat menjadi paradigma sehingga GPK hanya berlaku selama 4 tahun lalu digantikan GPB pada 2014. GPB dibawa oleh 3 wilayah di muktamar saat PP masih memegang GPK pada 2012. Dan untuk pertama kalinya IPM mengalami deadlock sehingga materi PP IPM ditolak. Kemudian disusun tim 12 yang terdiri dari PP IPM dan PW IPM yang kemudian melahirkan GPB dan SPI dengan metode burhani bayani.

Selain pemaparan terkait sejarah IPM, Monica turut menjelaskan tentang pengembangan kapasitas organisasi. Kapasitas organisasi sendiri dimengerti sebagai kemampuan individu dan organisasi untuk menampilkan fungsi-fungsi secara efektif, efisien, dan berkelanjutan guna pencapaian tujuan organisasi.

“Definisi ini bukan sesuatu yang statis, tetapi merupakan proses yang dinamis dan berkelanjutan dan sumberdaya manusia merupakan pusat dari pengembangan kapasitas,” tutur gadis asal Magelang ini.

DI akhir sesi, Monica menyampaikan bahwa dalam membudayakan riset untuk mengkonsep gerakan dan program itu diperlukan analisa kebutuhan, yakni dengan melihat sisi internal dan eksternal. Caranya dengan mencari titik temu kemampuan diri dengan kebutuhan masyarakat. Banyak dari kader IPM yang membayangkan jika riset itu melelahkan.

“Jangan membayangkan riset itu susah dan lama hanya karena belum pernah melakukannya,” tutup Monica. 

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *