Menatap Satu Abad IPM: Modalitas Diaspora Kader

Memasuki hari ketiga, para peserta mengikuti materi kedua PKM-TM (Pelatihan Kader Muhammadiyah Taruna Melati) 3 yang bertajuk “Modalitas Diaspora Kader” yang diisi oleh Danik Eka Rahmaningtyas pada Sabtu, (20/02/2021) dengan penuh antusias. Diskusi ini dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting dan dimoderatori Putri Dewanti dan Muhammad Fadhlullah, keduanya merupakan pengurus Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (PW IPM DIY).

Danik mengatakan bahwa kader-kader IPM sudah memiliki bekal yang bagus dan kuat. Namun pertanyaannya, pasca menjadi kader IPM mau jadi apa? Ia menerangkan jika tolok ukur kader IPM ketika hendak berdiaspora itu harus bisa memastikan jika orang-orang di luar Muhammadiyah kenal IPM.  

“Jangankan orang di luar Muhammadiyah, bahkan pelajar Muhammadiyah yang tidak ikut kepengurusan IPM ada yang tidak kenal IPM itu apa. Untuk itu, kita harus melakukan otokritik sebelum melakukan diaspora,” kata Danik.

Danik menjelaskan  bahwa penting agar para kader IPM dikenal oleh orang-orang di luar IPM. Alasannya, kalau IPM tidak dikenal, maka, bagaiamana orang akan memeprtimbangkan IPM akan berdiaspora di luar. 

“Harus ada klasifikasi dan perencanaan karir seperti apa ke depannya. Untuk bisa bertarung karena saat kita keluar dari muhammadiyah, orang saingan kita bukan orang yang ilmunya setara, kalau di IPM kan setara. Jangan kita berpikir kalau saya punya kualitas karena saat kita keluar nanti, bukan hanya kualitas saja yang dipertarungkan, akan tetapi ada banyak hal,”pesan wanita yang sekaligus Mantan Ketua Umum PP IPM Periode 2010-2012.

Persiapkan Modalitas itu Penting!

Hal yang perlu dipersiapkan adalah modalitas. Modalitas yang pertama adalah motivasi. Penting bagi kader IPM untuk memiliki motivasi/dorongan karena seseorang itu hidup dari dorongan. Jika tak memiliki dorongan, jangan berharap seorang kader bisa memiliki dampak di di sekitar kita dan masa depan kita yang akan mempengaruhi orang lebih banyak. 

Modalitas yang kedua adalah nilai. Hal ini sudah didapat di TM 1, kita belajar spirit al-qalam dan al-maun. Nilai yang terinternalisasi diri saya ada spirit al-maun. Misalnya, saat kita berpegang pada nilai untuk tidak melakukan kecurangan dalam hal apapun.

Modalitas yang ketiga adalah pengetahuan. Jika kita mempelajari suatu pengetahuan/skill, maka sebaiknya kita maksimalkan di bidang itu. Jangan berpikir untuk bermimpi menjadi seorang pemimpin yang pintar di segala bidang karena biasanya sosok yang demikian kepemimpinannya tidak berjalan dengan sehat. 

Lalu, modalitas terakhir adalah strategi perencanaan. Adanya strategi perencanaan dianggap penting karena tujuan organisasi tidak akan tercapai jika tidak ada strategi perencanaan yang tepat. 

Saat hendak melakukan otokritik di dalam tubuh organisasi, Danik menuturkan jika kunci pertamanya adalah analisis. Kemampuan analisis ini harus dikuasai. 

“Dalam melakukan suatu analisis organisasi, seorang kader perlu tahu bagaimana karakter aktor gerakan IPM-nya. Setelah ditemukan, barulah dicocokan dengan sasaran gerakannya dan mencari tahu apa saja yang dibutuhkan oleh sasaran gerakan serta jenis bidang karir apa saja yang potensial pada 5-10 tahun mendatang,” terang Danik.

Dalam pemaparannya, Danik menjelaskan bahwa setelah melakukan analisis, perlu dilakukan cek kesehatan gerakan. Pertama, perlu mengetahui apakah isu dan program gerakan masih relevan atau tidak. Kedua, mengetahui apakah metode gerakan masih efektif. Ketiga, mengetahui apakah rekrutmen aktor meritokratif. Keempat, mengetahui apakah sudah ada kolaborasi internal dan eksternal. 

Selain melakukan cek kesehatan gerakan, Danik memaparkan fungsi-fungsi diaspora bagi kader. Fungsi-fungsi tersebut di antara lain terdapat fungsi praktis/kebutuhan dasar. Fungsi ini menjelaskan bahwa seseorang di taraf ini tidak akan merasa cukup atas apa yang telah ia punya. Lalu, ada fungsi karir publik/prestige/penghargaan. Maksudnya, ketika seseorang memilih karir publik maka ia akan memilih bekerja di sebuah jabatan yang menurutnya memiliki status sosial yang tinggi meskipun gajinya pun lebih rendah. Lalu yang ketiga ada karir pengabdian/aktualisasi/syiar. Pada taraf ini, seseorang sudah tidak lagi peduli dengan penghargaan atau nilai gajinya, akan tetapi ia memilih melakukan suatu pekerjaan karena memang untuk melakukan pengabdian pada masyarakat.

IPM Punya Potensi Besar untuk Dikenal Khalayak

Danik mempertegas bahwa pentingnya diaspora kader secara praktis adalah untuk mempermudah kader dalam memperoleh relasi kerjasama dengan pihak-pihak tertentu. Salah satunya talent scoutting. Jika tidak ada kader-kader IPM yang berdiaspora maka penjaringan kader IPM pun akan menjadi sulit, IPM akan sulit dikenal. Secara strategis, diaspora kader berguna untuk mendapatkan jejaring dan mencapai tujuan kebijakan. Dan yang terakhir fungsi syiar yang berfungsi untuk publikasi dan eksternalisasi nilai. Bagaimana seorang kader menyampaikan nilai kepada orang lain. 

Di akhir pembahasan, Danik yang sekaligus Wakil Sekretaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia berpesan untuk jangan ingin menjadi sosok pemimpin yang bisa di segala bidang karena jika ingin menjadi sosok seperti Superman itu nanti memiliki musuh yang banyak.

“Di dunia kerja dan dunia sosial nggak ada yang namanya Superman, yang ada hanyalah superteam. Superteam dianggap penting karena agar IPM lebih dikenal. Salah satu agar dikenal adalah dengan viral di media sosial. Jika sudah viral, maka pihak yang viral itulah yang akan diundang di acara-acara televisi. IPM sangat berpotensi untuk itu mengingat IPM memiliki kader yang sangat banyak,” pungkas Danik. *(Inas)