Oleh : Galang Tito Pamungkas

Dilansir dari Wikipedia, komunitas adalah sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama. Dalam komunitas manusia, individu-individu di dalamnya dapat memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya, prefensi, kebutuhan, resiko, kegemaran dan sejumlah kondisi lain yang serupa. Komunitas berasal dari bahasa latin communitas yang berarti “kesamaan”, kemudian dapat diturunkan dari communis yang berarti “sama”, publik, dibagi oleh semua atau banyak.

Sebagai gerakan berbasis pelajar, selama ini Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) telah menyelenggarakan berbagai kegiatan yang bermanfaat untuk meningkatkan kapasitas individu sebagai pelajar muslim. Sebagaimana maksud dan tujuan IPM yakni terbentuknya pelajar muslim yang berilmu, berakhlak mulia dan terampil dalam rangka menegakkan dan menjunjung tinggi nilai-nilai Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Ketidakjelasan Arah Gerakan Sosial IPM

Pada level individu pelajar, cita-cita pembentukan pelajar muslim yang berilmu, berakhlak mulia dan terampil terasa sangat karakteristik. Tetapi dalam perspektif transformasi sosial, IPM sesungguhnya belum memiliki konsep gerakan sosial yang jelas.

Selama ini, kegiatan-kegiatan IPM masih fokus pada pendidikan formal dan pengelompokkan-pengelompokkan berdasarkan sekolah (fokus di sekolah Muhammadiyah) dan pelajar (definisi pelajar adalah hanya anak yang bersekolah). Kategorisasi pengelompokkan semacam ini sesungguhnya justru bersifat antisosial, karena pengelompokkan ini berarti cenderung meniadakan realitas stratifikasi dan diferensi sosial.

Dengan mendasarkan kegiatan pembinaan berdasarkan pengelompokkan tersebut, IPM terkesan eksklusif dan seolah-olah tidak peduli dengan pelajar-pelajar di sekolah negeri, anak-anak usia pelajar yang belum mampu melanjutkan di pendidikan formal, anak-anak usia pelajar yang termarjinalkan, dan sebagainya.

Sehingga gerakan-gerakan dan program yang diberikan IPM hanya terkesan struktural dan tampak kecenderungan bahwa kelompok-kelompok sosial yang didasarkan pada kategori kepentingan real dan objektif tampak tidak begitu ditangani dengan pendekatan yang tepat.

Pada Muktamar ke-XVIII IPM, paradigma gerakan IPM disempurnakan tidak hanya berfokus pada program-program pengembangan diri tetapi juga mengembalikan khittah gerakan pelajar yang sesungguhnya, gerakan yang memainkan posisi sentral pelajar sebagai subyek perubahan.

Di sinilah IPM menegaskan dirinya sebagai Gerakan Pelajar Berkemajuan (GPB) yang secara teologis merupakan refleksi dari nilai-nilai transendensi, liberasi, emansipasi dan humanisasi sebagaimana yang terkandung dalam QS Ali-Imran ayat 104 dan 103.

Secara bahasa, komunitas berasal dari bahasa Yunani fellowship (perkawanan). Istilah komunitas dalam Al-Qur’an adalah ummah, yaitu berakar dari kata al-umm (induk, ibu). Komunitas sejajar dengan ummat. Ummat asal katanya amma-yaummu berarti menuju-menumpu-meneladani. Kata amm juga berarti berniat atau bermaksud, berarti komunitas harus dibangun atas maksud, niat dan cita-cita yang sama.

Tidak banyak ditemukan satupun penggunaan kata komunitas di dalam Al-Qur’an. Namun lebih banyak menggunakan istilah ummah. Walaupun ada dua belas istilah komunitas yaitu qaum, ummah, sya’b, qabilah, firqah, thaifah, hizb, fauj, ahl, alu, an-nas, dan asbath.

Sehingga dapat diartikan secara terminologis bahwa komunitas/ummah adalah sebuah perkumpulan manusia yang para anggotanya memiliki tujuan yang sama, yang satu sama lain saling bahu membahu agar bisa bergerak menuju tujuan yang dicita-citakan berdasarkan kepemimpinan kolektif.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan inklusif sebagai termasuk atau terhitungJika dilihat dari asal-usulnya, inklusif berasal dari kata “ inclusion ” yang jika kita artikan kedalam bahasa Indonesia bisa bermakna mengikutsertakan atau mengajak masuk, pihak lain untuk ikut didalamnya.

Jadi bisa diartikan bahwa pengertian dari inklusif adalah sebuah sikap dimana kita memposisikan diri dalam satu level atau tataran yang sama dengan orang lain, tanpa melihat agama, suku, ras, bahasa, dan sebagainya.

Jika IPM atau anggota IPM ingin mendirikan sebuah komunitas, maka sikap yang pertama yang harus dimiliki oleh seluruh anggota IPM adalah inklusif, atau IPM harus terbuka terhadap apapun, salah satu contohnya yakni terbuka terhadap kaum yang termarjinalkan. Termasuk pada anak-anak jalanan.

Kita sering sekali menganggap bahwa anak jalanan atau anak punk adalah kaum-kaum terpinggirkan, baik secara pendidikan ataupun secara ekonomi. Kemudian dari situ kita tergerak untuk membuat sebuah komunitas. Nah, jika sudah ada rasa seperti itu maka artinya kita sudah mulai ada rasa inklusif pada hati kita, sehingga timbul keinginan untuk membuat sebuah wadah dan dalam hal ini disebut dengan “komunitas”.

Permasalahannya di sini, apakah kita punya panduan komunitas secara jelas pasca muktamar ke-XVIII? Inilah mengapa saya berani mengatakan mengapa IPM adalah organisasi yang tertutup atau eksklusif. Karena salah satunya ialah kurang seriusnya IPM menggarap panduan terkait komunitas.

Keseriusan IPM Menggarap Komunitas

Akan tetapi, sekarang PP IPM membuat Lembaga Pengembangan Komunitas (LPK), ini seharusnya menjadi angin segar bagi anggota-anggota IPM di manapun berada, karena misi yang dibawa salah satunya ialah tentang buku panduan komunitas. Hal ini membuktikan bahwa IPM yang sekarang mulai ada rasa dan memiliki sikap inklusif.

Sebagai salah satu best practice, komunitas ”Embong Apik” yang diinisiasi oleh Pemuda Muhammadiyah dan bidang Advokasi dan Kebijakan Publik PD IPM Kabupaten Malang terdiri oleh orang-orang yang hidup di jalanan, termarjinalkan, alias punk. Awalnya Pemuda Muhammadiyah tergerak hatinya agar teman-teman yang hidup di jalanan mendapatkan perhatian khusus,  sehingga orang-orang atau masyarakat tidak menganggap buruk mereka yang termarjinalkan.

Salah satu kegiatan positif yang telah dilakukan yakni memberikan pelatihan menyablon, latihan musik, berjualan dengan cara yang halal, belajar mengaji, kemudian juga memberikan gerobak untuk mereka supaya dapat berjualan dengan cara yang baik

Dari sini terlihat bahwasanya berdakwah di dalam ranah yang berbeda melalui komunitas sangat memberikan nilai positif. Banyak kesulitan yang terjadi, akan tetapi jika kita bersabar dengan itu maka semuanya akan memberikan nilai-nilai positif. Antara lain menimbulkan rasa sosial terhadap sesama manusia, secara tidak langsung menerapkan dakwah kultural, serta masih banyak lagi.

Mungkin masih banyak orang mempertanyakan mengapa hadirnya komunitas menjadi salah satu solusi yang dihadirkan IPM untuk anak muda hari ini. Dengan adanya sebuah komunitas, kita bisa mendapatkan berbagai macam manfaat sebagai berikut.

  1. Bisa mendapatkan ekosistem baru. Dengan ikut aktif dalam komunitas, kita bisa mendapatkan teman dengan tujuan yang relate saat berada di komunitas itu, dan juga bisa menemukan teman yang memiliki minat dan hobi yang sama.
  2. Bisa mendapatkan perspektif baru, yang artinya lingkungan komunitas sangat mendukung kita untuk menemukan sudut pandang baru terhadap apa yang sebelumnya kita sudah maupun belum ketahui, karena dari banyaknya interaksi dan mendengarkan sudut pandang anggota lain, dan biasanya kita mendapatkan sudut pandang yang semakin luas dan berkembang.
  3. Mendapatkan peluang kerja baru, bukan tidak mungkin lagi anggota IPM memiliki komunitas yang tidak menghasilkan uang, kesempatan ini juga bisa kita lakukan dengan mengandalkan situasi sekarang yakni era digital ini.
  4. Belajar hal baru langsung dari orangnya, atau ini juga menjadi salah satu keunikan dalam berkomunitas, kita bisa belajar langsung dengan teman-teman yang sudah lebih dulu punya pengalaman. Bahkan kita bisa belajar dari kegagalan mereka masing-masing.

Tujuan dari dibentuknya komunitas adalah untuk dapat saling membantu antar anggota dalam menghasilkan sesuatu. Pada intinya, sebuah komunitas apapun itu bentuknya selama itu bertujuan baik maka sebuah komunitas itu pun akan menjadi baik. Begitu juga dengan komunitas di IPM, apapun itu bentuknya apapun itu komunitasnya itu adalah sebuah gerakan yang baik dan akan menjadi ladang dakwah secara kultural.

_____

*) Peserta PKMTM III PW IPM DIY Tahun 2022 Asal PD IPM Kabupaten Malang