Belajar Hidup Minimalis, Pentingkah Untuk Diterapkan?

Enjoying life through minimalist lifestyle menjadi tema yang disampaikan di materi Sekolah Advokasi yang dilaksanakan pada Jumat, (08/01/2021) pada Zoom Meeting. 

Pada kesempatan kali ini, Atikah Az Zahidah seorang minimalist enthusiast sekaligus alumni rumah kepemimpinan yang menjadi pemateri. Ia menyampaikan tentang gaya hidup minimalis yang relevan dengan kehidupan saat ini. 

“Menikmati hidup dengan konsep minimalis akan membawa banyak manfaat pada kehidupan. Dengan mengurangi hal-hal yang tidak terlalu kita butuhkan, maka akan memberikan ruang lebih untuk kebahagiaan,” tutur Atikah.

Atikah juga menjelaskan bahwa ruang lingkup minimalisme tidak hanya membahas terkait interior, rumah, dan barang-barang lainnya.  Ia memaparkan bahwa dengan minimalisme kita bahkan bisa melepaskan keterkaitan kita dengan materi dunia sehingga kita dapat hidup dengan lebih sederhana dan mensyukuri hal-hal kecil yang sebenarnya berarti. Contohnya minimalis dalam kesehatan, finansial, hubungan dan komunikasi, spiritual dan kondisi mental serta digital environment.

Jika orang-orang menganggap minimalisme setara dengan pelit, Atikah mengungkapkan jika konsep minimalisme sangat berbeda dengan pelit. Konsep Minimalis membuat kita sadar akan porsi kebutuhan dan keinginan. Membuat kita melepaskan banyak hal yang sebenarnya tidak kita butuhkan atau bahkan dapat menjadi toxic dalam kehidupan. 

“Minimalisme memiliki manfaat seperti less money, cleanliness, serta paying respect to mother nature,” kata Atikah.

Minimalisme sendiri berangkat dari pergerakan seni yang bersifat material. Atikah menerangkan jika saat ini banyak orang yang menerapkan gaya hidup minimalis hanya ikut-ikutan dan hanya ingin terlihat instagramable.

“Padahal gaya hidup minimalis seharusnya berawal dari personal purpose, jadi memiliki keadaan tertentu yang menjadikan minimalisme sebagai solusi,” tutup Atikah.

Green Living Dengan Konsep Minimalis

Masih satu cakupan dengan pembahasan Atikah, Syahrul Ramadhan selaku Kader Hijau Muhammadiyah menyampaikan mengenai pentingnya minimalisme sebagai gerakan kolektif. Menurutnya, penting sekali untuk menerapkan hidup minimalis atau bisa disebut sebagai green living di lingkungan sekolah karena sekolah merupakan lembaga pendidikan kedua setelah keluarga yang sangat efektif untuk mengajarkan kepada peserta didik tentang penyelamatan lingkungan hidup. 

“Aspek yang menjadi tujuan pendidikan lingkungan pada siswa yakni kognitif (ilmu pengetahuan tentang pendidikan lingkungan), afektif (menanamkan nilai-nilai cinta lingkungan) ,serta psikomotorik (membekali siswa dengan keterampilan menjaga lingkungan),” jelas Syahrul.

Dalam pemaparannya, Syahrul memaparkan bahwa Green school (sekolah hijau) ini bukan hanya tampilan fisik sekolah yang hijau dan rindang, tetapi sekolah yang memiliki program dan aktivitas pendidikan yang mengarah pada kesadaran menjaga lingkungan, serta memiliki komitmen secara sistematis untuk mengembangkan program dan menginternalisasi nilai-nilai lingkungan ke dalam seluruh aktivitas sekolah.

Syahrul juga berpesan agar kita selalu menjaga lingkungan. Ia mengingatkan bahwa manusia seharusnya meminta izin kepada alam karena alam telah diciptakan terlebih dahulu daripada manusia.

“Harusnya kita malu jika melakukan eksploitasi alam dengan begitu meriah tanpa memikirkan akibatnya,” ujarnya di akhir kajian.  (Ageng)