ipmdiy

#PELAJARBERDAULAT

Artikel & Opini

@MUSYWILIPMDIY: Dari Muktamar IPM Kita Belajar Bahwa…

Terhitung sudah hampir dua bulan tepat setelah Muktamar XXII IPM terlaksana secara daring,  Ikatan ini belum menghasilkan putusan struktural apapun. Bahkan keputusan terbaru yang dilayangkan oleh PP Muhammadiyah dalam menanggapi ‘keramaian’ di Muktamar IPM kali ini mengharuskan kita menambah kesabaran untuk melihat siapa sosok pimpinan IPM di tingkat pusat, khususnya ketua umum.

PP Muhammadiyah dengan bijak memutuskan untuk menangguhkan potensi dualisme yang ada di tubuh PP IPM dengan cara membekukan sembilan formatur yang terpilih di Muktamar XXII di Purwokerto kemarin. Hal ini nampaknya dianggap sebagai jalan paling arif ketimbang harus mengesahkan salah satu struktural dari dua kubu yang ada.

Akan tetapi, di samping keriuhan dan ketidakpastian putusan yang menyebabkan PP IPM mengalami ‘kekosongan’ selama dua bulan terakhir ini, kalau kita menengok ke belakang dan mengamati jalannya prosesi pra hingga pasca Muktamar kemarin, ada beberapa hal yang dapat kita pelajari sebagai cara pandang baru dalam memaknai suatu permusyawaratan. Mulai dari tingkat ranting, hingga terlebih wilayah.

Menurut saya, Muktamar XXII kemarin akhirnya membuka tabir-tabir yang selama ini tidak terwadahi dan tampak dari anak-anak IPM, dan tentu apabila hal-hal tersebut dimanfaatkan dengan baik, maka dapat menjadi nilai positif bagi tubuh IPM secara umum. Apalagi yang terdekat bagi PW IPM DIY yang sebentar lagi akan melaksanakan Musywil XXII pada bulan Juni mendatang.

Dari Muktamar XXII IPM kemarin kita belajar bahwa….

Muktamar Bukan Lagi Arena yang ‘Eksklusif

Muktamar XXII kemarin selain menjadi Muktamar pertama kali yang cukup sukses dijalankan secara daring, juga menjadi Muktamar yang transparan dan inklusif. Selama perhelatannya, euforia Muktamar dapat dirasakan sampai pada tingkat ranting.

Hal ini tentu dipengaruhi dengan pelaksanaannya secara daring, maka informasi terkait Muktamar lebih dimassifkan via medsos. Maka hal tersebut berdampak pada feel Muktamar yang dapat menjangkau banyak kalangan, tidak hanya pimpinan wilayah dan daerah aja. Terlebih dengan adanya keramaian yang terjadi pasca Muktamar. Narasi-narasi kepedulian bermunculan di dan dari mana-mana.

Terbentuknya kantung-kantung cvber troops atau yang akrab disebut akun incluencer hingga buzzer dari kader-kader IPM serta aksi forward massal dari kader-kader wilayahnya masing-masing juga turut menambah kelancaran informasi mengenai hiruk pikuk Muktamar ini sampai di tataran paling bawah. Hingga akhirnya bahkan temen-temen ranting pun bisa tau kondisi PP IPM yang kemarin hingga saat ini sedang tidak baik-baik saja.

Hal yang sebelumnya hanya menjadi konsumsi ‘elit-elit’ Pimpinan Wilayah di warung kopi, kini juga bisa dikonsumsi oleh temen-temen pimpinan ranting yang sedang #SekolahDiRumahAja. Tentu ini juga menjadi tugas kakak-kakak PW maupun PD IPM untuk memberikan pemahaman kepada temen-temen PC dan PR terkait kondisi IPM saat ini. Daripada isu bergerak liar di grassroots, alangkah baiknya kakak-kakak PW dan PD mau untuk menjelaskan ketika ditanya tentang apa yang sedang terjadi di tubuh ikatan tercinta mereka. Dan temen-temen PC juga PR alangkah lebih baik untuk bertanya dan meminta konfirmasi terlebih dahulu kepada kakak-kakak PW atau PD sebelum ikut menyebarkan suatu narasi. Inilah Muhammadiyah sekarang, harus banyak bicara dan banyak bekerja.

Maka pertanyaannya adalah, apakah informasi-informasi, euforia dan rasa memiliki organisasi dari kader-kader IPM dapat dihantarkan se-massif Muktamar kemarin dalam permusyawaratan di bawahnya? Itu yang harus kita jawab dan olah bersama.

Dan yang perlu menjadi catatan adalah, kemunculan euforia, inklusivitas dan rasa memiliki yang pada Muktamar kemarin disebabkan karena ‘kekacauan’ yang ada, dapat diubah menjadi euforia dan rasa kepemilikan yang muncul karena kebajikan dan kecemerlangan gagasan-gagasan yang ada di Musywil, Musyda, Musycab maupun Musyran ke depan.

Dari Muktamar XXII IPM kemarin kita belajar bahwa….

Politik di IPM Bukan Lagi Hal yang Tabu

Sebagaimana yang sudah saya sampaikan di atas, bahwa Muktamar XXII kemarin seperti menggeser dan membagikan sajian warung kopi yang biasanya hanya bisa dinikmati kakak-kakak PW ketika Muktamar, ke meja cangkruk temen-temen PD hingga PR. Dan salah satu menu sajiannya adalah perpolitikan itu sendiri.

Bagaimana teman-teman PC maupun PR akhirnya sekarang tau bahwa dalam permusyawaratan di IPM tidak selalu berjalan mulus-mulus aja. Atau mungkin bisa dibilang tidak selalu berjalan ‘murni-murni saja’ dalam pemilihan formatur maupun ketua umum-nya. Perlu adanya komunikasi dan komitmen dengan kelompok utusan lain demi mewujudkan cita-cita mulia bersama.

Di sini saya sebut cita-cita mulia karena saya coba kembalikan narasi dan nilai politik sesungguhnya, ya. Yaitu, bahwa fungsi politik itu menurut Simbah Politik Dunia, Mbah Aristoteles adalah sebagai suatu aktivitas sosial (siyasah) yang punya tujuan eudaimonia—kehidupan/kesejahteraan umum yang lebih baik.

Hal ini penting dilakukan dalam permusyawaratan di IPM demi menghindari potensi munculnya sambatan-sambatan pasca permusyawaratan seperti, “Wah kok ketum e wagu yo? Ra humble dan ra pinter banget”, atau, “Ini gimana sih pimpinannya?! Kok bisa program A,B,C gak berjalan. Niat jadi pimpinan nggak sih?!”.

Hal di atas penting diperhatikan karena sistem politik elektoral yang ada di kita adalah sistem voting dalam memilih formatur, dan kita juga tahu bahwa angka tidak selalu berpihak pada yang benar. Maka, agar kearifan keputusan pimpinan IPM bisa tetap sesuai yang diharapkan, seringkali penyatuan harapan, gagasan dan komitmen utusan wilayah/daerah/sekolah perlu dikonsolidasikan secara politik.

Oleh karena itu, jangan takut ketika diajak berpolitik. Selama gagasan dan tujuannya sama dan mulia, kenapa enggak? Inget kan seruan Ali-Imran ayat 104? “Dan hendaklah di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan…”. Inget, segolongan orang, bukan cuman satu orang saja.

Selain itu, inget juga petuah dari Sayydina Ali bin Abu Thalib yang mengingatkan kepada kita bahwa kebatilan yang terorganisir akan mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir. Maka sebelum kelompok yang punya niat dan gagasan yang kurang sesuai dengan kebutuhan dan potensi ikatan menguasainya secara terorganisir, kita perlu mengorganisir dan merapatkan barisan untuk mencegah hal tersebut dan mengembalikan IPM ke arah potensi dan kebutuhan yang lebih tepat.

Sebenarnya mungkin masih banyak hal-hal lain yang dapat kita pelajari dari Muktamar XXII IPM kemarin yang belum saya sebutkan. Akan tetapi yang perlu digarisbawahi adalah, tidak perlu terlalu banyak nasehat, lakukanlah satu asal maksimal, maka itu lebih baik daripada hanya mendengarkan dan membaca banyak nasehat saja. Semoga kita termasuk dalam golongan yang bijak. Dan terakhir, sukses selalu buat IPM.

Ditulis oleh Racha Julian Chairurrizal, Ketua PW IPM DIY Bidang Advokasi

4 COMMENTS

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *