oleh : Sidiq Wahyu Oktavianto*

Pendidikan sejatinya harus mampu memerdekakan manusia. Setiap manusia memiliki kebebasan dan kehendaknya masing-masing. Sejatinya kebahagiaan manusia tidak bisa diukur hanya sebatas dengan angka dan materi. Setiap manusia memiliki waktunya masing-masing. Dewasa ini manusia terjebak dalam orientasi materialistis dan pragmatis.

Pertanyaan dalam masyarakat, “Mas daftar PNS di mana?”. Ada juga kadang orang tua yang mengatakan “Mas, besok kamu harus begini harus begitu, kerja ini kerja itu”. Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang menyudutkan manusia menjadi tidak merdeka, seolah-olah orientasi manusia hanya materialistis dan pragmatis belaka.

Guru-guru sekarang memiliki tantangan baru mendidik anak-anak milenial. Anak milenial berbeda dengan anak jaman dulu. Guru dituntut beradaptasi menghadapi anak milenial, anak yang hidup di dunia yang terbuka ini. Tak jarang anak-anak bahkan lebih pandai dari gurunya. Sumber belajar mereka sekarang bukan hanya sekedar sebatas buku atau guru di kelas saja. Cara belajar mereka adalah belajar bebas mereka bisa belajar dari apa saja yang ada di sekitar mereka, terlebih sekarang YouTube itu bisa lebih mempengaruhi dari pada gurunya sendiri.

Maka dari itu, pidato menteri pendidikan dalam peringatan hari guru tahun ini sebagai otokritik bagi kita sebagai guru. Harusnya kita lebih banyak berinteraksi dengan murid kita dimanapun kita berada, dibandingkan harus berkutat dengan banyaknya  administrasi guru yang belum jelas manfaatnya. Kurikulum yang membatasi anak untuk berpetualang agar mereka lebih mengenal dunia di sekitar kita. Kata-kata beliau benar-benar mendobrak paradigma pendidikan lama kita untuk menyambut paradigma pendidikan bagi generasi milenial.

Guru sekarang harus sering berinteraksi dengan murid-muridnya, mereka harus mampu menjadi fasilitator dalam mengoptimalkan dan mengaktualisasikan potensi-potensi yang ada dalam diri masing-masing muridnya untuk membentuk manusia yang sejati. Yaitu manusia yang benar-benar menjadi manusia sejahtera dan bahagia, yakni manusia yang memiliki kehidupan yang bermakna. (Haidar Bagir, ” Memulihkan Sekolah, Memulihkan Manusia”).

Anak-anak harus dijauhkan dari orientasi yang materialistis dan pragmatis. Mereka harus kita orientasikan kepada realitas diri manusia dan dirinya sendiri untuk melihat dunia yang begitu luas ini. Kita harus tanamkan dalam diri anak-anak kita  bagaimana agar mereka bisa bermanfaat bagi orang lain bukan malah menjadi beban bagi orang lain.

Mari menjadi pendidik yang selalu memfasilitasi mereka dalam memberikan ruang yang seluas-luasnya untuk mencoba dan salah. Kita keluarkan mereka dari zona nyaman agar mereka belajar dari kesalahan mereka hingga kelak menjadi manusia yang sejati.

Memanusiakan manusia, itu lah yang menjadi ruh dari pendidikan.

Begitu banyak tantangan bagi kita sebagai pendidik, tapi dengan kesungguhan, kesabaran dan ketulusan itulah yang menjadi kunci bagi kita dalam mendidik anak-anak kita.

Mohon maaf belum bisa menjawab harapan dari anak-anak sekalian, tapi yakinlah kami selalu memberikan yang terbaik untuk anak-anak kami.

Selamat hari Guru.

*) Ketua Bidang Perkaderan PW IPM DIY